Banda Aceh ! BeritaReportase.com –
Tradisi meugang kembali menghangatkan Tanah Rencong menjelang Ramadan 1447 H. Aroma daging yang khas menyebar di setiap sudut kota, menjadi penanda kuat bahwa bulan suci segera tiba. Momentum sakral ini dimaknai dengan aksi nyata oleh Senator asal Aceh, Darwati A. Gani, yang turun langsung membagikan sie makmeugang kepada sejumlah lembaga pelayanan sosial di Banda Aceh dan Aceh Besar pada Minggu–Senin (15–16 Februari 2026).
Langkah tersebut menyasar pesantren, panti asuhan anak yatim dan dhuafa, lembaga perlindungan anak korban kekerasan, hingga rumah singgah bagi pasien rawat jalan di rumah sakit rujukan.
Kegiatan berlangsung dengan pendekatan humanis dan penuh empati. Darwati tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga berdialog hangat dengan para penghuni.
Secara kultural, meugang bukan sekadar tradisi memasak dan menyantap daging menjelang Ramadan. Di Aceh, meugang adalah simbol kebersamaan, solidaritas sosial, dan syiar Islam yang telah mengakar lintas generasi.
Tradisi ini memperkuat ikatan keluarga sekaligus memperluas makna berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
“Meugang bukan hanya tentang hidangan. Ini tentang kepedulian dan kebersamaan,” ujar Darwati dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa tidak semua masyarakat memiliki kesempatan merayakan momen tersebut bersama keluarga.
Ada anak-anak yang hidup jauh dari orang tua. Ada pasien yang sementara waktu menetap di rumah singgah. Ada pula saudara-saudara yang tengah menghadapi keterbatasan ekonomi.
Bagi mereka, perhatian sederhana memiliki arti yang mendalam. Kehadiran langsung seorang wakil rakyat menjadi pesan kuat bahwa negara dan masyarakat tidak abai terhadap kondisi mereka.
Sentuhan kemanusiaan ini mempertegas bahwa Ramadan adalah momentum memperkuat empati sosial.
Darwati berharap, sie makmeugang yang dibagikan mampu menghadirkan kebahagiaan sederhana sekaligus menguatkan mental dan spiritual para penerima manfaat.
“Semoga ini bisa meringankan dan menghibur mereka. Ramadan adalah bulan berbagi. Kita ingin semua merasakan hangatnya kebersamaan,” tutupnya.
Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa tradisi meugang adalah warisan budaya Aceh yang sarat nilai luhur. Ia bukan hanya soal kuliner, tetapi tentang merawat empati, menjaga persaudaraan, dan menghidupkan semangat gotong royong menjelang bulan penuh berkah.
Di tengah dinamika zaman, aksi nyata seperti ini membuktikan bahwa nilai tradisi tetap relevan, tetap hidup, dan tetap menjadi denyut nadi kebersamaan masyarakat Aceh—kokoh, bermakna, dan tak tergoyahkan.
)**Tjoek / Foto Ist.

+ There are no comments
Add yours