Jakarta ! BeritaReportase.com –
Anggota DPD RI/MPR RI Daerah Pemilihan DKI Jakarta, Achmad Azran, yang akrab disapa Bang Azran, kembali menyoroti persoalan banjir Jakarta Timur yang terus berulang, terutama di kawasan Cawang, Kampung Melayu, dan sepanjang bantaran Kali Ciliwung setiap musim hujan dengan intensitas tinggi.
Sebagai wakil daerah sekaligus warga Jakarta Timur, Bang Azran menegaskan bahwa persoalan banjir tidak boleh dipahami secara parsial. Wilayah Jakarta Timur memiliki luas sekitar 188 kilometer persegi dengan populasi lebih dari tiga juta jiwa.
Data tersebut menjadikan Jakarta Timur sebagai wilayah administratif terluas dan salah satu yang terpadat di Provinsi DKI Jakarta.
Di sejumlah kecamatan seperti Jatinegara dan Kramat Jati, kepadatan penduduk telah melampaui 15 ribu jiwa per kilometer persegi.
Tingginya kepadatan ini berdampak langsung pada meningkatnya koefisien limpasan air hujan. Permukaan tanah yang tertutup beton dan aspal mengurangi daya serap air secara signifikan.
Ketika hujan deras mengguyur kawasan Jabodetabek, air tidak lagi meresap, melainkan mengalir cepat ke sistem drainase yang kapasitasnya terbatas.

“Kita tidak bisa terus menyederhanakan masalah banjir hanya sebagai akibat hujan deras. Jakarta Timur berada di hilir Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Ketika hujan tinggi terjadi di wilayah hulu seperti Bogor, debit air meningkat signifikan dan menekan kawasan rendah seperti Kampung Melayu dan Cawang. Jika pada saat bersamaan terjadi hujan lokal, maka risiko luapan meningkat,” ujar Bang Azran, Jumat (20/2/2026).
Secara hidrologis, kawasan bantaran Kali Ciliwung kerap mengalami fenomena backwater effect. Kondisi ini terjadi ketika debit air sungai meningkat sementara kapasitas alir terbatas.
Air tertahan dan meluap ke permukiman padat, sehingga genangan bertahan lebih lama.
Bang Azran menilai, meskipun program normalisasi sungai telah dilakukan di beberapa segmen, pendekatan tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem drainase mikro di tingkat lingkungan.
Sungai utama mungkin telah diperlebar, namun saluran sekunder dan tersier di permukiman masih menggunakan dimensi lama yang tidak lagi relevan dengan perkembangan kepadatan bangunan.

“Masalah utama kita adalah integrasi sistem. Drainase lingkungan harus ditingkatkan kapasitasnya agar selaras dengan sungai utama. Tanpa pembenahan menyeluruh, air tetap akan mencari titik lemah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pembangunan sumur resapan yang perlu diawasi secara teknis dan berbasis data spasial. Sumur resapan harus ditempatkan pada zona dengan tingkat limpasan tinggi serta memenuhi standar kedalaman dan material penyaring.
Jika dirancang dengan tepat, sumur resapan mampu menurunkan beban saluran secara signifikan saat puncak hujan.
Sebagai praktisi yang berpengalaman di bidang properti dan pembangunan, Bang Azran menekankan pentingnya penguatan ruang terbuka hijau sebagai infrastruktur hijau kota.
Ia mendorong agar taman kota di Jakarta Timur dirancang tidak hanya sebagai ruang rekreasi, tetapi juga sebagai area retensi air. Desain lanskap cekung di titik tertentu dapat berfungsi menampung air sementara saat hujan ekstrem, sebuah praktik solusi berbasis alam yang telah diterapkan di berbagai kota maju.
Bang Azran juga menegaskan bahwa penanganan banjir Jakarta harus dilakukan dengan pendekatan hulu hingga hilir. Koordinasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta pemerintah daerah di kawasan hulu menjadi kunci pengendalian debit air secara sistematis dan berkelanjutan.
Sebagai Anggota DPD RI/MPR RI, ia menyatakan komitmennya untuk mendorong penguatan kebijakan pengelolaan daerah aliran sungai dan pembenahan sistem drainase perkotaan secara nasional.
Menurutnya, Jakarta Timur harus menjadi prioritas karena kompleksitas wilayahnya yang memadukan kepadatan tinggi, permukiman lama, serta jalur sungai utama.
“Banjir bukan takdir. Ia adalah konsekuensi dari pilihan tata ruang dan manajemen infrastruktur. Jika kita berani melakukan audit menyeluruh terhadap sistem drainase, memperbanyak ruang resapan, dan menegakkan disiplin tata ruang, maka Jakarta Timur bisa jauh lebih tangguh terhadap banjir,” pungkas Bang Azran.
Sebagai putra Jakarta Timur, Bang Azran menegaskan akan terus mengawal kebijakan penanganan banjir agar tidak berhenti pada respons darurat tahunan.
Ia mendorong transformasi permanen dalam tata kelola kota yang cerdas, terintegrasi, dan berpihak pada keselamatan warga.
Banjir Jakarta Timur adalah persoalan serius yang menuntut solusi berbasis data, keberanian kebijakan, dan konsistensi eksekusi.
Saat komitmen bertemu dengan perencanaan yang presisi, harapan bukan lagi sekadar wacana, melainkan arah pasti menuju kota yang lebih tangguh, aman, dan bermartabat.
)**Tjoek / Foto Ist

+ There are no comments
Add yours