Jakarta ! BeritaReportase.com –
Di tengah geliat musik independen yang semakin dinamis, kolaborasi lintas waktu kembali melahirkan karya baru. Komposer dan arranger Yanzine resmi memperkenalkan single “Mentari”, sebuah lagu yang menyimpan perjalanan kreatif panjang sejak pertama kali ditulis hampir satu dekade lalu.
“Mentari” awalnya diciptakan pada 2017 oleh Yanzine bersama Deden Daelami. Saat itu, lagu tersebut hanya sempat direkam dalam bentuk guide sederhana dan belum mendapatkan sentuhan produksi yang utuh. Seiring waktu, proyek tersebut sempat tertunda sebelum akhirnya kembali dihidupkan pada akhir 2026.
Keputusan untuk mengaransemen ulang lagu ini menjadi langkah penting. Yanzine memilih pendekatan akustik yang lebih jujur dan intim, menonjolkan emosi dasar dari komposisi yang sejak awal memang dibangun dari pengalaman personal.

Dalam proses produksi terbaru, Yanzine menggandeng vokalis Yanda Adi untuk membawakan lagu ini. Karakter vokal Yanda yang hangat memberi dimensi baru pada “Mentari”, menjadikannya terasa lebih hidup sekaligus dekat dengan pendengar.
Selain itu, proyek ini juga melibatkan musisi lokal dari kawasan Priuk, termasuk Ncek atau Rezha Saputra. Rekaman dilakukan di All’s Syndicate Studio dengan konsep sederhana yang menekankan kualitas rasa dibanding produksi berlapis.
Pendekatan minimalis tersebut justru memperkuat karakter lagu, di mana instrumen akustik memberi ruang luas bagi vokal dan lirik untuk menjadi pusat perhatian.
Secara lirik, “Mentari” mengangkat tema kesunyian, kehilangan, dan harapan. Lagu ini menggambarkan kondisi emosional seseorang yang berada dalam fase gelap akibat absennya sosok penting dalam hidupnya.

Metafora mentari digunakan sebagai simbol cahaya dan harapan. Ketika mentari tak terlihat, perasaan pun tenggelam dalam kerinduan. Namun, pada bagian chorus, pesan lagu berkembang menjadi refleksi bahwa setiap rasa kehilangan adalah bagian dari ujian kehidupan.
Struktur lagu yang repetitif pada chorus mempertegas emosi rindu yang terus kembali, seolah menjadi siklus perasaan yang tak mudah selesai.
Alih-alih langsung masuk ke jalur distribusi digital secara penuh, Yanzine dan Yanda Adi memilih merilis “Mentari” terlebih dahulu melalui YouTube dalam format video lirik. Strategi ini dilakukan sebagai langkah awal untuk membaca respons audiens.
Hasilnya cukup menggembirakan. Pendengar merespons positif nuansa akustik yang terasa autentik dan tidak berlebihan, sekaligus mengapresiasi kedalaman pesan yang disampaikan melalui lirik sederhana namun emosional.

Kehadiran “Mentari” menunjukkan bahwa sebuah karya tidak selalu harus lahir pada saat pertama ia diciptakan. Terkadang, lagu membutuhkan jarak waktu agar dapat tumbuh bersama pengalaman baru penciptanya.
Melalui versi terbaru ini, Yanzine dan para kolaboratornya menghadirkan karya yang terasa matang, sebuah lagu tentang rindu yang akhirnya menemukan momentumnya untuk bersinar, layaknya mentari yang kembali muncul setelah gelap panjang.
)**doni / Cah/ foto yya

+ There are no comments
Add yours