Beritareportase.com – Suasana tegang dan penuh nuansa budaya terasa saat acara Press Screening & Press Conference film horor terbaru Aku Harus Mati digelar di Epicentrum XXI, Kamis (26/3/2026). Film produksi Rollink Action ini memperkenalkan horor yang tidak hanya mengandalkan teror visual, tetapi juga mengangkat unsur budaya Jawa serta fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
Disutradarai oleh Hestu Saputra, film ini diproduseri oleh Irsan Yapto dan Nadya Yapto, dengan naskah yang ditulis oleh Aroe Sama. Aku Harus Mati dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 2 April 2026.
Dalam konferensi pers, Irsan Yapto menegaskan bahwa film ini tidak sekadar menyajikan kisah horor, tetapi juga merefleksikan fenomena sosial yang semakin terasa di masyarakat.

Menurut Irsan Yapto, tema besar yang diangkat dalam film ini adalah bagaimana manusia modern terkadang rela mengorbankan dirinya demi memenuhi ambisi, validasi sosial, atau gaya hidup.
“Cerita film ini sangat dekat dengan realita kehidupan kita saat ini. Banyak orang yang terjebak dalam lingkaran utang seperti pinjaman online atau paylater demi memenuhi gaya hidup tertentu,” kata Irsan Yapto.
Diungkapkan pula oleh Irsan Yapto bahwa setelah penayangan di bioskop Indonesia, film ini direncanakan untuk diperkenalkan ke pasar regional Asia Tenggara sebelum kemungkinan masuk ke platform streaming.
Salah satu kekuatan film Aku Harus Mati terletak pada penggunaan elemen budaya Jawa yang cukup kental. Cerita mengambil latar budaya Jawa Tengah dengan sentuhan tembang Jawa yang digunakan sebagai bagian dari atmosfer film. Pendekatan ini menghadirkan nuansa horor yang lebih khas sekaligus memperkuat identitas lokal dalam cerita.

Sutradara Hestu Saputra menjelaskan bahwa ide cerita film ini lahir dari kegelisahan terhadap kondisi sosial yang berkembang di masyarakat, terutama terkait normalisasi berbagai bentuk tekanan sosial dan ekonomi.
“Sebagai kreator, kami memiliki keresahan yang sama terhadap kondisi sosial masyarakat. Ada banyak hal yang seolah dianggap biasa, padahal sebenarnya menjadi teror bagi banyak orang,” ujart Hestu Saputra.
Ditambahkan oleh Hestu Saputra bahwa film ini juga menampilkan karakter-karakter unik, termasuk tokoh misterius seperti Pak Marto yang hidup di hutan dan memiliki identitas yang tidak sepenuhnya manusia.
Berbeda dari film horor yang hanya bermain pada sugesti, Aku Harus Mati menghadirkan visual teror secara langsung. Wujud makhluk gaib dalam film ini tidak disembunyikan, tetapi ditampilkan secara jelas di layar.
Selain itu, rangkaian teror juga diperkuat dengan adegan kekerasan yang cukup eksplisit, termasuk pembunuhan, penusukan, hingga visual darah yang muncul secara gamblang. Pendekatan ini membuat film terasa lebih intens sekaligus meningkatkan ketegangan sepanjang cerita.

Cerita film ini berpusat pada karakter Mala yang diperankan oleh Hana Saraswati. Mala digambarkan sebagai seorang yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik dan tekanan sosial untuk terlihat sukses.
Keinginan untuk meraih kemewahan membuatnya terjerumus dalam lingkaran utang pinjaman online yang semakin menjerat kehidupannya.
Dalam keputusasaan, Mala memutuskan kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan. Di sana ia bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Tiwi yang diperankan Amara Sophie, serta Nugra yang diperankan Prasetya Agni.
Namun kepulangan Mala justru membuka pintu menuju rahasia kelam masa lalu yang melibatkan perjanjian iblis dan tumbal manusia.
Hana Saraswati mengungkapkan bahwa pesan utama film ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern. Menurutnya, konsep “menjual jiwa demi harta” dalam film tidak selalu bermakna literal, tetapi menggambarkan bagaimana seseorang dapat kehilangan ketenangan batinnya demi mengejar validasi sosial.
Selain itu Hana Saraswati juga mengaku memiliki pengalaman yang cukup berkesan saat menjalani adegan ritual dalam film tersebut. “Kami berkonsultasi dengan para ahli agar adegan ritual dilakukan sesuai dengan praktik yang sebenarnya. Saat syuting saya tidak merasakan apa-apa, tetapi setelah pulang justru menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal yang berbau mistis,” ujarnya.

Melalui kombinasi horor visual yang intens, unsur budaya Jawa, serta kritik terhadap fenomena sosial seperti utang digital dan gaya hidup hedonistik, Aku Harus Mati mencoba menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak hanya menegangkan tetapi juga reflektif.
Film ini seolah mengingatkan bahwa teror paling menakutkan tidak selalu datang dari dunia gaib, melainkan dari pilihan manusia sendiri ketika ambisi dan validasi sosial mulai menguasai hidupnya.
Kisah lengkap tentang rahasia perjanjian iblis dan nasib Mala dapat disaksikan saat Aku Harus Mati mulai tayang di bioskop Indonesia pada 2 April 2026. (cahyo)

+ There are no comments
Add yours