Beritareportase.com – Setelah cukup lama absen dari panggung ibu kota, Dewa Budjana akhirnya kembali menyapa penikmat musik Jakarta melalui konser tunggal bertajuk “Pranayama” yang akan digelar pada 10 April 2026 di Deheng House.
Momen ini terasa spesial, dalam sesi pembuka press conference Dewa Budjana Pranayama Concert pada hari Kamis (02/04/2026) di Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan, terungkap bahwa konser solo terakhir Dewa Budjana di Jakarta terjadi pada 2019. Sejak saat itu, ia lebih banyak berkarya di studio, termasuk menjalani berbagai proyek rekaman internasional.
Konser Dewa Budjana itu memang sangat eksklusif. Di satu sisi ia sangat produktif membuat album, bahkan rekaman di luar negeri, tapi di sisi lain konsernya jarang. Itu yang membuat setiap penampilannya selalu dinantikan.
Bagi Dewa Budjana, “Pranayama” bukan sekadar konser, melainkan perjalanan musikal yang lahir dari refleksi panjang sebagai seniman. “Pranayama itu nafas. Saya bersyukur masih diberi nafas di usia sekarang. Jadi konser ini bukan hanya soal musik, tapi tentang rasa dan kesadaran”, katanya.

Konsep ini sejalan dengan pendekatan musiknya yang selalu menempatkan harmoni sebagai inti. Di tengah dunia yang penuh konflik dan kebisingan informasi, Dewa Budjana ingin menghadirkan ruang yang lebih tenang dan reflektif.
“Musik itu harusnya bisa meredakan. Seperti apapun bentuknya, pada akhirnya kembali ke keindahan dan harmoni”, imbuh Dewa Budjana.
Konser ini juga menjadi kelanjutan dari eksplorasi musikal Dewa Budjana dalam beberapa tahun terakhir. Ia dikenal aktif merilis karya melalui Moonjune Records, termasuk album seperti Dawai in Paradise, Mahandini, hingga Prague Nayama (2025) yang direkam bersama orkestra di Prague.
Beberapa komposisi dari fase tersebut, seperti On the Way Home, Dreamland, dan Karma akan dibawakan dalam format baru di konser ini. Tidak lagi megah dengan orkestra, melainkan lebih organik dan dekat dengan penonton.

Awalnya, Dewa Budjana sempat merencanakan penggunaan orkestra. Namun, ia memilih format yang lebih sederhana demi menjaga keintiman pertunjukan. “Kalau semua instrumental, bisa jadi jenuh. Jadi saya tambahkan elemen vokal dan pendekatan yang lebih variatif,” jelasnya.
Dalam “Pranayama”, Dewa Budjana menggandeng sejumlah musisi yang telah lama menjadi bagian dari perjalanannya, termasuk Shadu Rasjidi, Yandi Andaputra, Dio Siahaan, Irsa Destiwi, dan Jaeko Siena.
Dewa Budjana juga tetap setia pada ciri khasnya, yaitu memadukan instrumen modern dengan elemen musik tradisional seperti talempong, menciptakan lanskap bunyi yang kaya dan lintas budaya. “Setiap album saya selalu ada alat musik tradisional. Kali ini juga ada kejutan yang menurut saya menarik”, ungkapnya.
Salah satu momen paling menarik dalam konser ini adalah keterlibatan Endah Widiastuti, vokalis dari duo Endah N Rhesa.
Endah mengaku sempat tidak percaya ketika mendapat tawaran langsung dari Dewa Budjana. “Sempat deg-degan, kayak ‘yang bener nih diajak sama Mas Budjana?’ Karena saya tahu lagunya tidak mudah”, ujarnya.

Di balik rasa gugup itu, tersimpan perjalanan panjang yang akhirnya berujung pada panggung kolaborasi ini. Endah mengingat bahwa hubungannya dengan Budjana sudah terjalin sejak masa sekolah. “Dari zaman masih putih abu-abu, saya sudah datang ke studio Mas Budjana, ikut semacam masterclass. Bahkan sebelum bertemu Reza, saya belajar dari beliau”, kenangnya.
Bagi Endah, tampil bersama Budjana menjadi pencapaian personal sebagai musisi. “Ini kehormatan besar dan milestone dalam perjalanan saya”, tambahnya.
Dalam konser ini, Endah tidak hanya tampil sebagai vokalis, tetapi juga membawa warna baru dengan membawakan lagu dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia, Inggris, dan Sansekerta. Ia mengaku harus melakukan persiapan khusus, terutama untuk memahami pelafalan dan makna bahasa Sansekerta yang jarang digunakan dalam musik populer.
“Bahasa ini tidak mudah. Saya sampai belajar langsung untuk memahami pengucapannya. Walaupun kontemporer, tetap harus ada pemahaman yang benar”, jelas Endah.
Digelar di DeConcert Room, Deheng House, konser ini dirancang sebagai pengalaman yang lebih dekat antara musisi dan penonton. Didukung tata suara dan visual yang mumpuni, ruang ini menjadi medium ideal bagi eksplorasi musikal Dewa Budjana.

Bagi Dewa Budjana, justru dalam ruang yang lebih kecil, musik bisa terasa lebih jujur. “Kita datang, langsung main, sound sudah bagus. Tempatnya intimate, dan itu yang saya cari”, ujarnya.
Konser Pranayama menjadi salah satu pertunjukan yang sayang untuk dilewatkan, khususnya bagi penikmat musik instrumental, etnik, dan eksploratif. Tiket dibanderol mulai dari Rp300.000 hingga Rp500.000 dan dapat dibeli melalui platform resmi BookCabin.
Dengan kapasitas terbatas dan konsep yang personal, “Pranayama” menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan sisi lain dari seorang Dewa Budjana bukan hanya sebagai gitaris virtuoso, tetapi sebagai seniman yang terus mencari makna dalam setiap nada.
Di tengah kesibukannya merekam di berbagai belahan dunia, konser ini menjadi jeda yang intim, sebuah ruang untuk bernapas, merasakan, dan kembali pada esensi musik itu sendiri: harmoni. (cahyo)

+ There are no comments
Add yours