Sleman, DIY (BeritaReportase) :
Penguatan peran anak muda desa kembali mengemuka sebagai isu strategis pembangunan nasional. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, R.A. Yashinta Sekarwangi Mega, bersama Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) secara tegas mendorong pemuda desa tampil sebagai aktor utama pembangunan, bukan sekadar pelengkap program.
Gagasan tersebut disuarakan dalam Forum Desa Muda Indonesia bertema “Anak Muda Berdaya Membangun Desa” yang digelar Sabtu sore (28/12/2025) di Joglo Kembang Wonderful, Desa Wonokerto, Turi, Sleman. Forum ini menjadi ruang dialog terbuka antara pemuda desa, pembuat kebijakan, akademisi, dan pegiat kebudayaan untuk merumuskan masa depan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, R.A. Yashinta Sekarwangi Mega menyoroti masih minimnya keterlibatan pemuda desa dalam proses pengambilan keputusan, khususnya dalam forum strategis seperti Musyawarah Desa (Musdes). Pemuda, menurutnya, kerap hanya dihadirkan sebagai pelengkap kegiatan, bukan sebagai subjek perencana pembangunan.
Ia juga mengkritisi pola penggunaan Dana Desa yang cenderung terserap pada pembangunan fisik, sementara pengembangan kapasitas, kepemimpinan, dan kreativitas pemuda desa nyaris terpinggirkan.
“Penguatan peran pemuda desa harus menjadi agenda serius. Tanpa ruang partisipasi dan dukungan kebijakan yang berpihak, potensi besar anak muda desa akan terus terpinggirkan,” tegas Yashinta.
Sejalan dengan itu, Ketua Umum IPDA, Arifin Kusuma Wardhani, S.Sos., M.A., menegaskan bahwa desa tidak boleh terus diposisikan sebagai objek pembangunan. Desa harus menjadi subjek yang digerakkan oleh sumber daya manusianya sendiri, terutama generasi muda yang memahami persoalan lokal secara langsung.
“Anak muda desa punya energi, kreativitas, dan keberanian untuk berubah. IPDA mendorong mereka tampil sebagai penggerak perubahan, bukan hanya penerima program,” ujarnya.
Dari sudut pandang kebudayaan, Yani Saptohoedojo, Dewan Penasihat IPDA, mengingatkan bahwa pembangunan desa tidak boleh tercerabut dari nilai budaya dan kearifan lokal. Modernisasi, menurutnya, harus berjalan selaras dengan identitas desa agar tidak menggerus kekuatan sosial yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.
Sementara itu, akademisi Dr. Untoro Hariadi, M.Si. mengangkat paradoks pembangunan desa di Indonesia yang masih menggunakan logika perkotaan. Pendekatan tersebut dinilai berisiko menghilangkan karakter desa, padahal masyarakat kota justru mulai mencari nilai keberlanjutan dan harmoni yang dimiliki desa.
Forum ini turut dihadiri M. Fauhan Fawaqi, S.IP., M.M., anggota DPRD Kabupaten Kebumen, Aji Nurfadilah, S.Sos. selaku Ketua IPDA DIY, serta sejumlah figur publik dan pemuda inspiratif, termasuk Fidelia Prabajati, S.H., M.H., Top 15 Puteri Indonesia 2023. Kehadiran berbagai elemen ini memperkuat pesan bahwa masa depan desa membutuhkan kolaborasi lintas sektor dengan pemuda sebagai pusatnya.
Melalui Forum Desa Muda Indonesia, IPDA bersama para pemangku kepentingan berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa anak muda desa adalah aset strategis bangsa. Dengan kebijakan yang berpihak, ruang partisipasi yang nyata, dan keberanian untuk berubah, desa diyakini mampu tumbuh inklusif, berkarakter, dan berkelanjutan—tanpa kehilangan jati dirinya.
Sebab ketika pemuda desa diberi ruang, desa bukan hanya bertahan, tetapi melesat menjadi kekuatan masa depan Indonesia.
)**Yuri / Foto Ist

+ There are no comments
Add yours