Jakarta ! BeritaReportase.com –
Ramadan tahun ini menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar rutinitas ibadah. Di tengah dinamika kehidupan modern, bulan suci ini menjadi ruang refleksi yang menghadirkan perjalanan spiritual mendalam bagi sebagian masyarakat. Momentum ini bagi Wulan Sadeva bermuara pada makna Lebaran sebagai titik “pulang ke diri sendiri”, sebuah konsep yang semakin relevan dan kuat secara emosional.
Selama Ramadan, khususnya pada waktu-waktu hening seperti sahur, menjelang berbuka, hingga malam hari, suasana yang tercipta memberikan ruang bagi individu untuk terhubung kembali dengan dirinya.

Didalam keheningan tersebut, kesadaran tumbuh secara alami. Seseorang mulai melihat dirinya dengan lebih jujur, memahami emosi yang sebelumnya terabaikan, serta merangkul sisi diri yang selama ini terpinggirkan.
“Aku tidak menjalaninya sekadar sebagai rutinitas, tapi sebagai sebuah perjalanan spiritual yang perlahan membuka banyak hal dalam diriku sendiri,” ungkap Wulan Sadeva kepada BeritaReportase.com.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya memiliki dimensi ritual, tetapi juga dimensi psikologis dan spiritual yang kuat. Dalam ritme yang melambat, individu memiliki kesempatan untuk berhenti dari kebisingan hidup. Proses ini menghadirkan ruang refleksi yang autentik dan memperkuat kesadaran diri.
“I slow down, I listen, I feel, and I allow myself to just be,” lanjutnya.
Meski proses refleksi tidak selalu terasa nyaman, pengalaman tersebut justru menjadi pintu menuju pencerahan. Dalam istilah sederhana, ini disebut sebagai quiet awakening, yaitu kesadaran yang hadir secara perlahan namun berdampak signifikan terhadap cara pandang seseorang terhadap hidup.
Lebaran kemudian hadir bukan hanya sebagai perayaan tradisi tahunan, tetapi sebagai simbol perjalanan kembali. Tidak hanya kembali ke rumah secara fisik, tetapi juga kembali kepada esensi diri yang lebih jernih, lebih sadar, dan lebih utuh.
“Lebaran terasa seperti pulang. Bukan hanya ke rumah, tapi ke diri sendiri,” ujar Wulan.
Selain refleksi personal, nilai berbagi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan spiritual ini. Aksi nyata dilakukan dengan menyalurkan bantuan ke luar kota sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Tindakan ini mencerminkan bahwa makna Ramadan dan Lebaran tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan meluas kepada sesama.
“Giving, in its purest form—reaching beyond my own circle,” tambahnya.
Pengalaman ini menegaskan bahwa makna Lebaran terus berkembang. Ia bukan lagi sekadar tradisi, melainkan momentum kesadaran, kepulangan batin, dan penguatan nilai kemanusiaan. Ramadan menjadi jembatan menuju pemahaman diri yang lebih dalam, sementara Lebaran menjadi puncak perjalanan yang sarat makna.
Pada akhirnya, Wulan Sadeva menilai Lebaran bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang keberanian untuk kembali mengenal diri, menerima setiap bagian yang ada, dan melangkah dengan kesadaran baru yang lebih utuh—sebuah kepulangan yang tidak hanya terasa, tetapi juga menggetarkan jiwa dan meninggalkan jejak makna yang tak tergantikan.
Lebaran adalah tentang pulang—dan dalam kepulangan itu, setiap insan menemukan dirinya kembali, lebih jernih, lebih kuat, dan lebih hidup.
)**Tjoek / Foto Ist.

+ There are no comments
Add yours