Beritareportase.com – Di balik kemeriahan Freshman Fair 2026, ada satu benang merah yang menyatukan seluruh rangkaian acara: semangat kebersamaan. Sosok di balik narasi itu adalah Eric Sudrajat, Project Officer yang tak hanya mengatur jalannya acara, tetapi juga merancang pengalaman kolektif bagi mahasiswa Fakultas Teknik.
Bagi Eric Sudrajat, Freshman Fair bukan sekadar agenda tahunan. Ia melihatnya sebagai ruang pertemuan yang selama ini sulit terjadi di tengah padatnya aktivitas akademik dan perbedaan jurusan. “Mahasiswa teknik itu sebenarnya punya potensi besar untuk saling terhubung, tapi sering terhalang oleh kelas, jadwal, dan lingkup pergaulan. Di sinilah Freshman Fair hadir sebagai jembatan,” katanya.
Salah satu pendekatan yang diusung adalah melalui musik. Panggung Freshman Fair 2026 diisi oleh berbagai band dari lintas jurusan, termasuk komunitas musik teknik, Enigma. Pilihan genre yang cenderung pop dan rock dibuat agar mudah dinikmati dan mampu menarik keterlibatan banyak orang.

Di tengah alunan musik, batas-batas formal antar mahasiswa perlahan memudar. Mereka tidak lagi sekadar mahasiswa dari jurusan berbeda, melainkan bagian dari satu komunitas yang sama.
“Musik itu cara paling cepat untuk menyatukan. Semua bisa menikmati tanpa harus punya latar belakang yang sama,” ujar Eric Sudrajat.
Selain musik, suasana kebersamaan juga dibangun lewat kegiatan berbasis komunitas seperti Sport Teknik dan Freshman Cup. Dalam Sport Teknik, mahasiswa larut dalam yel-yel dan dukungan kolektif yang membangun rasa memiliki.
Sementara itu, Freshman Cup menghadirkan kompetisi olahraga dan e-sports antar jurusan. Namun, esensi dari kegiatan ini bukan sekadar kompetisi. “Kita ingin mereka punya pengalaman bersama. Dari situ muncul rasa saling kenal, lalu berkembang jadi kedekatan,” jelas Eric Sudrajat
Freshman Fair 2026 juga menjadi cara untuk menghadirkan narasi baru tentang kehidupan kampus. Di tengah berbagai isu yang sempat muncul, Eric Sudrajat ingin menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menciptakan ruang yang sehat dan produktif.
“Kita ingin membangun energi positif. Bahwa kampus itu bukan hanya soal akademik atau hal-hal negatif, tapi juga tempat untuk berkarya dan tumbuh bersama,” tutur Eric Sudrajat.

Menariknya, pendekatan yang diambil Eric Sudrajat tak lepas dari latar belakangnya sebagai musisi. Sejak kecil ia telah akrab dengan dunia drum, hingga akhirnya aktif bermain band dan tampil di berbagai kesempatan.
Pengalaman bermusik itu membentuk cara pandangnya terhadap kerja tim. “Di band, semua punya peran. Kalau tidak saling mendukung, tidak akan jadi musik yang utuh. Itu yang saya terapkan juga di acara ini,” kata Eric Sudrajat.
Baginya, harmoni dalam musik serupa dengan harmoni dalam komunitas dibangun dari keberagaman yang saling melengkapi.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa teknik dan penyelenggara acara, Eric Sudrajat tetap menjaga langkahnya di dunia musik. Ia bahkan tengah menyiapkan karya baru bersama bandnya.
Eric Sudrajat percaya bahwa konsistensi adalah kunci, baik dalam berkarya maupun membangun komunitas. “Sekarang itu bukan cuma soal kemampuan, tapi juga bagaimana kita menunjukkan karya kita ke publik,” ujarnya.

Pada akhirnya, Freshman Fair 2026 bukan hanya tentang rangkaian kegiatan yang selesai dalam beberapa hari. Eric ingin meninggalkan sesuatu yang lebih panjang umur, rasa kebersamaan.
Eric Sudrajat berharap interaksi yang terbangun selama acara bisa terus berlanjut dalam kehidupan kampus sehari-hari. “Kalau setelah acara ini mereka jadi lebih kenal, lebih dekat, dan lebih peduli, berarti tujuan kita tercapai,” pungkasnya.
Melalui pendekatan yang memadukan musik, komunitas, dan inspirasi, Eric Sudrajat membuktikan bahwa sebuah acara kampus bisa menjadi lebih dari sekadar perayaan, ia bisa menjadi titik awal lahirnya solidaritas. (sulis)

+ There are no comments
Add yours