MUI Ajak Elemen Bangsa Hentikan Polemik Potongan Pernyataan Jusuf Kalla

Jakarta ! BeritaReportase.com – 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak seluruh elemen bangsa menghentikan polemik terkait potongan pernyataan Jusuf Kalla (JK) yang beredar luas di media sosial. Imbauan ini disampaikan guna menjaga persatuan dan kondusivitas nasional di tengah dinamika opini publik.

Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, Zainut Tauhid Sa’adi, menegaskan bahwa pernyataan JK harus dipahami secara utuh dalam konteks sejarah. “Pernyataan Bapak Jusuf Kalla perlu dipahami secara komprehensif, bukan sebagai upaya menghidupkan sentimen negatif,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Ia menekankan bahwa sejarah bangsa harus menjadi sumber kearifan. MUI, lanjutnya, mendorong masyarakat untuk mengedepankan diksi yang menyejukkan serta menjaga persatuan. “Kedewasaan berbangsa tercermin dari kemampuan kita mengubah dinamika menjadi energi positif bagi persatuan nasional,” tegasnya.

Dalam menghadapi arus informasi yang deras, MUI juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi. “Kami mengajak masyarakat mengedepankan husnuzan dan membudayakan tabayun terhadap setiap informasi yang beredar,” katanya. Ia menambahkan, narasi yang terpotong berisiko menimbulkan kesalahpahaman jika tidak diklarifikasi secara bijak.

MUI secara tegas meminta agar polemik yang berkembang segera dihentikan. “Perdebatan yang berlarut-larut sudah tidak produktif dan berpotensi mengoyak kerukunan umat beragama. Mari kita tutup celah adu domba dan fokus pada agenda kebangsaan yang lebih strategis,” ujarnya.

Polemik ini muncul setelah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) melaporkan JK ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penistaan agama. Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA pada 12 April 2026.

Ketua Umum GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, menyatakan ceramah JK yang viral dinilai melukai perasaan umat Kristen. “Kami melaporkan Bapak Jusuf Kalla dan mewakili sekitar 19 lembaga serta organisasi masyarakat Kristen,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, JK menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat menista agama. Dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4), ia menjelaskan bahwa ceramahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) justru bertujuan membahas perdamaian.

“Saya jelaskan tentang perdamaian sebagai akhir dari konflik. Saya juga menyinggung konflik seperti di Ambon dan Poso,” kata JK.

Ia menegaskan bahwa bagian yang dipersoalkan hanyalah potongan kecil dari keseluruhan materi. “Saya tidak bicara tentang dogma agama. Saya bicara bagaimana konflik terjadi dan bagaimana agama sering disalahgunakan,” jelasnya.

JK juga menegaskan bahwa tidak ada ajaran agama yang membenarkan kekerasan. “Tidak ada ajaran agama yang membenarkan saling membunuh,” ujarnya.

Seruan MUI menjadi penegasan penting bahwa stabilitas sosial dan kerukunan antarumat beragama harus tetap dijaga. Di tengah derasnya arus informasi digital, kedewasaan publik dalam menyikapi isu sensitif menjadi kunci utama agar bangsa tidak terpecah oleh narasi yang terpotong dan menyesatkan.

)**Djunod / Tjoek / Foto Ist.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours