Beritareportase.com – Depok menapaki babak baru dalam perjalanan pembangunan saat merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27. Dalam Rapat Paripurna yang digelar Kamis (23/4), peringatan ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan panggung refleksi atas capaian ekonomi, arah pembangunan kota, serta dinamika politik kolaboratif yang menjadi fondasi kemajuannya.
Ditegaskan oleh Wali Kota Supian Suri, bahwa pertumbuhan yang dirasakan masyarakat saat ini merupakan hasil akumulasi kebijakan lintas kepemimpinan dan sinergi antar lembaga. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, stabilitas dan kesinambungan kebijakan menjadi kunci yang menjaga laju pertumbuhan kota penyangga ibu kota ini tetap kompetitif.
“Depok hari ini adalah hasil kerja bersama semua pihak, dari pemimpin terdahulu hingga masyarakat,” kata Supian SUri. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan politik inklusif yang menempatkan kolaborasi sebagai modal utama pembangunan daerah.

Sebagai bagian dari kawasan strategis metropolitan Jabodetabek, Depok menunjukkan daya tahan ekonomi yang cukup solid. Pertumbuhan sektor jasa, perdagangan, serta dukungan UMKM menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Namun, keberhasilan ini tidak berdiri sendiri melainkan ditopang oleh stabilitas politik daerah dan hubungan harmonis antara eksekutif, legislatif, serta unsur Forkopimda.
Momentum HUT ke-27 juga menegaskan pentingnya partisipasi publik dalam pembangunan. Keterlibatan masyarakat, termasuk organisasi seperti PKK, memperkuat pendekatan pembangunan berbasis komunitas yang semakin relevan di tengah tuntutan ekonomi yang dinamis.
Di balik capaian tersebut, Pemerintah Kota Depok tidak menutup mata terhadap tantangan struktural yang masih membayangi. Infrastruktur dan pengelolaan sampah menjadi dua isu krusial yang beririsan langsung dengan produktivitas ekonomi dan kualitas hidup warga.
Keberadaan jaringan jalan tol yang mengelilingi Depok belum sepenuhnya mampu mengurai kemacetan. Titik keluar tol justru menjadi bottleneck yang menghambat mobilitas barang dan manusia, sebuah persoalan yang dalam kacamata ekonomi berpotensi menekan efisiensi dan daya saing kota.
Sementara itu, persoalan sampah menuntut pendekatan kebijakan yang lebih inovatif. Transformasi menuju sistem pengelolaan berbasis teknologi dan ekonomi sirkular menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan. Tanpa pembenahan serius, isu ini berpotensi menjadi beban fiskal sekaligus ancaman lingkungan jangka panjang.
Dalam dimensi politik, HUT ke-27 menjadi momentum konsolidasi arah pembangunan yang lebih inklusif. Pemerintah kota menekankan pentingnya rasa memiliki (sense of belonging) sebagai energi sosial untuk menjaga keberlanjutan program.
Pendekatan ini mencerminkan pergeseran paradigma dari pembangunan yang top-down menuju model partisipatif. Pemerintah tidak lagi menjadi satu-satunya aktor, melainkan fasilitator yang mengorkestrasi kepentingan berbagai pihak mulai dari masyarakat, sektor swasta, hingga komunitas lokal.

Di usia ke-27, Depok menunjukkan karakter sebagai kota yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga berbenah secara struktural. Kejujuran dalam mengakui persoalan menjadi modal penting untuk melangkah lebih jauh.
Dengan fondasi kolaborasi politik yang kuat, strategi pembangunan yang adaptif, serta komitmen terhadap keberlanjutan, Depok menegaskan posisinya sebagai kota penyangga yang terus bertransformasi. Tantangannya kini bukan sekadar menjaga pertumbuhan, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan tersebut inklusif, efisien, dan berorientasi masa depan.
HUT ke-27 menjadi penanda bahwa perjalanan Depok bukan hanya tentang capaian angka, tetapi tentang kemampuan sebuah kota dalam menyeimbangkan ambisi ekonomi, realitas pembangunan, dan dinamika politik menuju masa depan yang lebih tertata dan berdaya saing tinggi. (doni)

+ There are no comments
Add yours