Sentuh Nurani Publik, Film Inklusif “Terangku Dalam Gelapku” Angkat Kisah Perjuangan dan Persahabatan Tasya Difabel Bali

Jakarta ! BeritaReportase.com —

Industri seni pertunjukan dan perfilman Bali kembali bakal melahirkan karya visual penuh makna melalui film drama inklusif berjudul “Terangku Dalam Gelapku”. Film ini hadir mengangkat tema keberagaman serta kesetaraan dengan menyoroti realitas kehidupan, empati, dan keindahan persahabatan anak-anak penyandang disabilitas yang sering kali luput dari perhatian masyarakat.

Garis besar cerita film ini terinspirasi dari kisah nyata Ni Putu Sri Widia Meganatasya, atau yang akrab disapa Tasya. Remaja berbakat asal Bali putri dari pasangan I Made Sukanaya dan Ni Luh Ketut Nina Handayani Puspasari ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik sejak kecil tidak menyurutkan semangatnya untuk mengukir prestasi di panggung menari, modeling, hingga seni peran.

“Saya sangat menyukai dunia seni—mulai dari menari, modeling, hingga akting. Di sekolah tetap jalan, kegiatan syuting juga berjalan lancar,” ujar Tasya saat membagikan pengalamannya di sela-sela proses produksi.

Ni Putu Sri Widia Meganatasya

Penggarapan film “Terangku Dalam Gelapku” berlangsung selama dua bulan penuh dengan mengambil latar lokasi ikonik di Bali, seperti Denpasar, Jimbaran, dan Gianyar. Sutradara sekaligus penulis skenario film, Ni Pande Putu Rahayu Mustika Dewi (Mimi Jegon), memimpin langsung proses produksi secara intensif, mulai dari penyusunan skenario, penciptaan soundtrack, hingga pendampingan coaching serta tata busana (wardrobe) para pemain.

“Film ini sangat dekat dengan perasaan kita. Kita harus menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Proses pengarahannya membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra selama dua bulan produksi karena fokus utama kita adalah menyoroti potensi dan ketulusan mereka,” ungkap Mimi Jegon.

Melalui narasi yang emosional dan pendekatan humanis, film ini menegaskan pesan moral bahwa kegelapan tidak timbul dari keterbatasan fisik, melainkan dari keengganan mata hati masyarakat untuk melihat potensi sesama.

Kehadiran Tasya dalam “Terangku Dalam Gelapku” diharapkan membuka ruang inklusi selebar-lebarnya bagi seluruh anak berkebutuhan khusus di Indonesia untuk terus berkarya dan bersinar di panggung yang sama.

)**Yuri Gharib / Foto Ist.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *