Beritareportase.com – Merawat sejarah sekaligus memperkuat persatuan masyarakat Betawi menjadi fokus Badan Musyawarah (Bamus) Betawi melalui rangkaian kegiatan silaturahmi dan kunjungan ke tempat bersejarah di lima wilayah Jakarta. Pada Sabtu (24/10/2026), giliran Museum Mohammad Husni (MH) Thamrin di Jalan Kenari II Nomor 15, Jakarta Pusat, menjadi ruang pertemuan untuk mengenang perjuangan tokoh Betawi yang berkontribusi besar terhadap pergerakan nasional Indonesia.
Kegiatan bertajuk Silaturahmi Pengurus dengan Ormas-Ormas Betawi dan Kunjungan Tempat Bersejarah di 5 Wilayah Kota Tahun 2026 tersebut diikuti sekitar 20 organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam Bamus Betawi. Mengusung semangat menyongsong lima abad Jakarta sebagai kota budaya dan kota global, kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan ant organisasi, tetapi juga mengajak masyarakat menggali keteladanan MH. Thamrin.
Sekretaris Jenderal Bamus Betawi, Anas Maaruf, S.E., menegaskan bahwa mengenal sejarah merupakan bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat Betawi. Menurutnya, generasi muda perlu memahami perjuangan para tokoh terdahulu agar memiliki landasan untuk melanjutkan kontribusi bagi Jakarta dan Indonesia.
“Pertemuan kita pada hari ini tidak semata-mata pertemuan kumpul, tetapi juga ingin memperkuat literasi dan pengetahuan kita terhadap sejarah,” ujar Anas Maaruf, S.E.
Dijelaskan oleh Anas Maaruf, S.E., bahwa MH Thamrin merupakan putra Betawi yang perjuangannya melampaui kepentingan kelompok dan memberikan kontribusi bagi bangsa. Pemikiran serta langkah politiknya dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk memperjuangkan keadilan, meningkatkan kesejahteraan, dan menjaga persatuan.
Bagi Bamus Betawi, kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali hubungan masyarakat dengan tempat-tempat bersejarah yang menyimpan perjalanan panjang Jakarta.

Anas Maaruf, S.E., menyampaikan bahwa kunjungan ke Museum MH Thamrin merupakan bagian keempat dari rangkaian penelusuran sejarah yang dilaksanakan Bamus Betawi. Sebelumnya, kegiatan serupa berlangsung di Museum Benyamin Sueb di Jakarta Timur, Pangeran Wijayakusuma di Jakarta Selatan, serta Museum Bahari di Jakarta Utara.
Rangkaian kunjungan tersebut kemudian dilanjutkan ke Museum Tekstil di Jakarta Barat sebagai bagian dari upaya mengenalkan warisan sejarah dan budaya yang tersebar di wilayah Jakarta.
Menurut Anas Maaruf, S.E., museum seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda bersejarah. Museum juga perlu dihadirkan sebagai ruang pembelajaran yang memungkinkan masyarakat memahami pemikiran, perjuangan, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para tokoh bangsa.
Upaya ini dinilai semakin penting di tengah perubahan zaman, ketika generasi muda memiliki beragam sumber informasi tetapi belum tentu mengenal secara mendalam sejarah lingkungan dan tokoh yang berperan dalam perjalanan daerahnya.
Anas Maaruf, S.E., berharap organisasi kemasyarakatan Betawi dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sejarah tersebut, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga kebudayaan dan membangun Jakarta.
Dalam pemaparan materi, Dr. Hj. Aida Maqbulah, M.A., mengulas keberpihakan MH Thamrin kepada rakyat, terutama masyarakat pribumi yang mengalami ketimpangan pada masa kolonial. Ia mengungkapkan bahwa MH Thamrin dikenal berani mengkritik kebijakan yang dinilai tidak adil. Ia menyoroti pembangunan kawasan elite yang memperoleh fasilitas memadai, sementara sejumlah kampung masih menghadapi persoalan sanitasi, saluran air, dan keterbatasan infrastruktur.
Menurut Dr. Hj. Aida Maqbulah, M.A., keberanian tersebut disertai pemahaman terhadap persoalan anggaran dan kebutuhan masyarakat. MH Thamrin menginginkan kebijakan pembangunan yang lebih merata, termasuk dalam bidang pendidikan dan penyediaan fasilitas publik.
Selain itu Dr. Hj. Aida Maqbulah, M.A., juga menyoroti kiprah Thamrin dalam memperjuangkan ruang bagi masyarakat pribumi melalui sepak bola. MH Thamrin dikenal berperan dalam pendirian Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), organisasi yang menjadi cikal bakal Persija Jakarta.
Berbagai langkah itu memperlihatkan bahwa perjuangan MH Thamrin tidak berhenti pada kritik. Ia berupaya menghadirkan solusi nyata untuk memperkuat kedudukan masyarakat pribumi di tengah ketidakadilan kolonial.
Dr. Hj. Aida Maqbulah, M.A., menilai, semangat tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan masa kini. Masyarakat tidak seharusnya bersikap pasif terhadap kebijakan publik, tetapi perlu mengawasi pembangunan, menilai keberpihakan anggaran, serta memastikan tersedianya ruang publik yang dapat dimanfaatkan bersama. Ia juga mengingatkan pentingnya menyampaikan kritik berdasarkan fakta dan data, disertai gagasan yang dapat menjadi solusi bagi kepentingan masyarakat.
Sementara itu H. Rendra Yuniardi, M.Si., dalam pemaparannya menekankan pentingnya memahami Museum MH Thamrin sebagai bagian dari sejarah pergerakan nasional Indonesia.
Bangunan tersebut dibeli Mohammad Husni Thamrin pada 1927 untuk digunakan sebagai tempat pertemuan, kegiatan organisasi, dan pendidikan masyarakat. Gedung itu kemudian menjadi tempat berlangsungnya sejumlah pertemuan penting organisasi pergerakan, termasuk Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), Partai Indonesia Raya (Parindra), dan Pemuda Kaum Betawi.

Gedung tersebut juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan politik dan kebangsaan yang mempertemukan tokoh-tokoh dari beragam latar belakang. Perannya sebagai tempat bertukar gagasan membuat bangunan itu dikenal sebagai gedung permufakatan. Setelah ditetapkan sebagai gedung bersejarah pada 1972, bangunan tersebut diresmikan menjadi Museum MH Thamrin pada 11 Januari 1986 oleh Gubernur DKI Jakarta R. Soeprapto.
Rendra menjelaskan, perjuangan Thamrin menunjukkan bagaimana gagasan, diplomasi, dan keberanian politik dapat digunakan untuk memperjuangkan kepentingan bangsa. Pemikirannya mengenai pembangunan perkotaan, sanitasi, dan pengendalian banjir juga memperlihatkan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat Jakarta.
Dengan mengenal sejarah tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui nama MH Thamrin yang diabadikan menjadi nama jalan protokol di Jakarta, tetapi juga memahami nilai perjuangan di baliknya.
Kegiatan Bamus Betawi tersebut mendapat apresiasi dari Kasubkel Lembaga Kebudayaan DKI Jakarta, Farsha Elvinra. Ia menilai kunjungan bersama organisasi kemasyarakatan menjadi langkah positif untuk memperkenalkan museum sebagai destinasi kebudayaan sekaligus sarana edukasi sejarah.
Farsha Elvinra berharap kolaborasi antara Bamus Betawi dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dapat terus berlanjut dalam upaya menjaga museum serta cagar budaya. Ia juga mengajak masyarakat ikut bertanggung jawab merawat aset sejarah yang menjadi bagian dari warisan Jakarta.
Menurut Farsha Elvinra, pelestarian sejarah memerlukan kajian yang memadai, termasuk untuk tempat-tempat bersejarah yang berada di luar kepemilikan pemerintah daerah. Karena itu, koordinasi dengan masyarakat, pengelola lokasi, dan kalangan peneliti diperlukan agar upaya pelestarian dapat dilakukan sesuai kondisi serta status masing-masing tempat.
Sementara itu, Lurah Kenari, Rahmat Hidayat, menyambut baik kegiatan yang mempertemukan berbagai organisasi Betawi di Museum MH Thamrin. Ia berharap Bamus Betawi bersama ormas dan lembaga adat dapat terus bersinergi untuk menjaga persatuan masyarakat Betawi.
Rahmat Hidayat juga mendorong generasi muda untuk lebih mengenal museum dan tokoh perjuangan dari daerahnya sendiri. Menurutnya, pengenalan sejarah dapat menjadi salah satu cara menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas Betawi sekaligus memperkuat persaudaraan.
Kunjungan ke Museum MH Thamrin menegaskan bahwa pelestarian budaya Betawi tidak sebatas mempertahankan bahasa, pakaian adat, kesenian, kuliner, dan tradisi. Lebih dari itu, budaya juga mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, keterbukaan, penghormatan kepada sesepuh, dan kemampuan hidup berdampingan dalam keberagaman.
Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting bagi Jakarta yang terus berkembang sebagai kota global menjelang lima abad usianya. Di tengah perubahan perkotaan, identitas dan sejarah lokal perlu tetap mendapat ruang agar kemajuan tidak memutus hubungan masyarakat dengan akar budayanya.
Melalui kegiatan silaturahmi dan kunjungan ke tempat bersejarah, Bamus Betawi berharap organisasi kemasyarakatan dapat bergerak bersama dalam menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat peran masyarakat Betawi dalam pembangunan.
Perjuangan MH Thamrin menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap budaya dan daerah perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, keberanian memperjuangkan keadilan, serta kepedulian terhadap kepentingan masyarakat luas. Dengan semangat tersebut, Bamus Betawi mendorong agar sejarah tidak berhenti menjadi kenangan, tetapi terus menjadi sumber pengetahuan dan teladan bagi generasi penerus dalam membangun Jakarta yang berbudaya, inklusif, dan menghargai keberagaman. (donz)
















