Beritareportase.com – Tidak semua orang berani memulai mimpi di luar profesi yang telah dijalani. Hal itulah yang dilakukan Rocha Gibson. Di tengah kesibukannya sebagai pebisnis yang membantu mengelola usaha keluarga di Australia, perempuan yang juga gemar memasak dan menyanyi ini memutuskan melangkah ke industri musik Indonesia dengan merilis debut single berjudul “Dibalik Tawaku”.
Single bergenre slow rock tersebut bukan sekadar menjadi karya perdana, tetapi juga menjadi catatan perjalanan hidup Rocha Gibson yang dituangkan langsung ke dalam lirik lagu. Seluruh kisah yang tertuang dalam “Dibalik Tawaku” berasal dari pengalaman pribadi yang selama ini ia simpan rapat dan belum pernah ia ungkapkan kepada banyak orang.
“Lagu ini berisi perjalanan hidup saya dari masa lalu hingga berada di titik sekarang. Semua liriknya saya tulis sendiri dari hati. Saya ingin lagu ini menjadi kenangan sekaligus warisan yang suatu saat bisa didengar oleh anak-anak dan cucu saya,” kata Rocha Gibson saat proses pembuatan video klip di Villa D’Ros House, Pelabuhan Ratu, 30 Juli 2026.
Diakui oleh Rocha Gibson bahwa dirinya bukan sosok yang mudah bercerita. Karena itu, musik menjadi ruang untuk menyalurkan emosi dan pengalaman hidup yang selama ini dipendam. Inspirasi lagu tersebut hadir secara spontan. Setelah terbangun pada suatu pagi, ia langsung menuliskan setiap kalimat yang muncul di pikirannya sebelum akhirnya menyerahkan lirik itu kepada produser Ian Chaniago untuk diolah menjadi sebuah lagu.

Genre slow rock dipilih karena dianggap paling mampu menggambarkan karakter vokalnya sekaligus memperkuat pesan emosional yang ingin disampaikan. Menurut Rocha Gibson, lagu-lagu bertema kehidupan dan perjuangan lebih mudah ia bawakan dibandingkan lagu dengan nuansa ceria.
Di balik lahirnya “Dibalik Tawaku”, Ian Chaniago mengungkapkan bahwa tantangan terbesar justru datang dari keinginan untuk menjaga keaslian lirik yang ditulis Rocha Gibson. “Rocha datang membawa lirik yang sangat personal. Saya berusaha agar tidak banyak mengubah isi lirik tersebut karena kekuatan lagu ini memang terletak pada kejujuran ceritanya,” ujarnya.
Dijelaskan oleh Ian Chaniago bahwa pemilihan genre slow rock merupakan permintaan langsung dari Rocha Gibson sejak awal proses produksi. Menurutnya, genre tersebut menjadi medium yang tepat untuk menyampaikan perjalanan hidup sang penyanyi.
Sebagai penyanyi pendatang baru, Rocha Gibson juga menjalani pengalaman pertamanya melakukan rekaman di studio profesional. Ian Chaniago menyebut proses tersebut penuh tantangan, tetapi sekaligus menjadi pengalaman berharga yang menunjukkan keseriusan Rocha dalam berkarya.
“Rocha memang baru pertama kali rekaman secara profesional. Banyak momen yang menyenangkan selama prosesnya, dan itu menjadi bagian dari perjalanan lahirnya single ini,” ungkap Ian Chaniago.
Setelah resmi dirilis, tim produksi akan memperkenalkan “Dibalik Tawaku” melalui berbagai media dan platform digital dengan menyasar penikmat musik slow rock di Indonesia. Ian Chaniago optimistis lagu tersebut dapat menemukan pendengarnya karena menawarkan cerita yang dekat dengan kehidupan banyak orang.

Tak hanya itu, Ian Chaniago mengungkapkan bahwa Rocha Gibson telah menyiapkan single kedua yang masih berada dalam jalur musik yang sama. Seluruh proses produksinya bahkan telah rampung dan tinggal menunggu waktu peluncuran.
Meski baru memulai karier di industri musik, Rocha Gibson menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan sekadar mengejar popularitas. Ia berharap setiap lagu yang diciptakannya dapat menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan hidup, seberat apa pun, selalu menyimpan pelajaran dan harapan.
Dengan debut melalui “Dibalik Tawaku”, Rocha Gibson menghadirkan warna baru di industri musik Indonesia. Perpaduan kisah nyata, lirik yang jujur, dan balutan musik slow rock menjadi identitas awal yang ingin ia bangun sebagai seorang penyanyi sekaligus pencipta lagu. (cahyo)
















