Beritareportase.com – Ketika sebagian besar film romantis berpusat pada kisah cinta anak muda, CLBK (Cinta Lama Babak Kedua) justru mengambil langkah berbeda. Film produksi MIR Productions ini menjadikan kisah cinta lama sepasang kakek dan nenek sebagai poros utama cerita, lalu merangkainya dengan konflik keluarga, romansa generasi muda, hingga komedi yang menghangatkan hati.
Film garapan sutradara sekaligus penulis Ivander Tedjasukmana ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 2 Juli 2026.
Executive Producer Sunil Mirpuri mengungkapkan keputusan memproduksi CLBK bukan tanpa pertimbangan. Saat industri perfilman sedang dibanjiri film horor, timnya justru memilih menghadirkan drama romantis yang ringan, menyentuh, dan dekat dengan kehidupan keluarga.

Menurut Sunil, sejak awal terdapat tiga naskah yang diajukan kepada pihaknya. Namun, CLBK langsung mencuri perhatian karena menghadirkan cerita yang berbeda.
“Film ini memperlihatkan bagaimana setiap generasi memiliki cara sendiri dalam menghadapi cinta, keluarga, dan persoalan hidup. Itu yang membuat kami yakin memilih CLBK,” kata Sunil Mirpuri saat Gala Premiere di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026).
Ditambahkan oleh Sunil Mirpuri, tim produksi sepakat membuat film yang mampu menghangatkan hati penonton. “Kami tidak ingin membuat film yang terlalu sedih ataupun terlalu lucu. Kami ingin menghadirkan cerita yang membuat penonton tersenyum sekaligus tersentuh,” ujarnya.
Di balik lahirnya CLBK, tersimpan cerita yang tidak kalah menarik. Co-Producer sekaligus Founder MIR Productions, Vladimir Rama, mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi produser film. Keinginan itu muncul secara spontan ketika bertemu Yogi Arifiandy dan Ivander Tedjasukmana saat sama-sama mengerjakan proyek film lain. Saat Ivander menawarkan tiga cerita, CLBK langsung menjadi pilihan utama.
Menurut Vladimir Rama, seluruh pemain yang tampil di film ini merupakan daftar pilihan pertama sejak awal. “Syukurnya semua berjalan seperti sudah berjodoh. Kami tidak mengalami kesulitan mencari pemain karena semua yang kami inginkan akhirnya bisa bergabung,” tuturnya.

Vladimir Rama juga mengaku puas dengan hasil akhir film karena menawarkan premis yang sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan banyak orang.
Keseriusan tim produksi terlihat dari proses menciptakan suasana Bandung tempo dulu. Produser Yogi Arifiandy mengungkapkan banyak penonton mengira adegan di Jalan Braga dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Padahal seluruhnya merupakan hasil penataan artistik secara langsung. Mulai dari mobil klasik, becak era 1970-an, hingga detail kecil seperti pedagang kerupuk bertumpuk tinggi, semuanya benar-benar dicari agar sesuai dengan kondisi zaman. Tim bahkan harus berburu properti hingga ke daerah Subang.
Menariknya, Jalan Braga sempat hampir dibatalkan sebagai lokasi syuting karena dianggap terlalu sulit diubah. Namun setelah tim artistik melakukan survei, mereka justru yakin lokasi tersebut bisa menjadi salah satu kekuatan visual film.
Di layar, hubungan Raka dan Ambar terasa natural. Ternyata, chemistry itu dibangun melalui proses yang cukup unik. Sintya Marisca mengaku awalnya cukup kesulitan membangun kedekatan dengan lawan mainnya, Iskak Khivano, karena jadwal kegiatannya yang sangat padat.
Iskak Khivano bahkan mengaku sempat mengeluh kepada sutradara karena pesan-pesannya jarang mendapat balasan. Namun akhirnya keduanya sepakat meluangkan waktu untuk bertemu dan mengobrol di luar proses syuting.
“Bukan untuk pacaran, tetapi supaya kami benar-benar mengenal satu sama lain sebagai pasangan di film,” ujar Iskak Khivano.

Menurut Sintya Marisca, pertemuan-pertemuan tersebut menjadi bekal emosional yang membuat hubungan Raka dan Ambar terasa lebih hidup ketika kamera mulai merekam.
Bagi Iskak Khivano, film ini bukan hanya soal menjadi pemeran utama. Ia menyebut kesempatan bermain bersama Slamet Rahardjo dan Widyawati sebagai impian yang akhirnya menjadi kenyataan. Sejak kecil ia tumbuh menyaksikan karya-karya Slamet Rahardjo di dunia teater dan perfilman. Karena itu, ketika mendapat tawaran bermain di CLBK, ia langsung menerima tanpa ragu.
Perasaan serupa juga dirasakan Widyawati. Pemeran Nin Sita itu mengaku menikmati bekerja sama dengan generasi muda. Menurutnya, suasana syuting berlangsung hangat dan penuh canda sehingga dirinya merasa sangat nyaman selama proses produksi.
CLBK (Cinta Lama Babak Kedua) mengisahkan Raka dan Ambar yang tengah bersiap menuju pelaminan. Namun semua berubah ketika Sita mengetahui bahwa Abi, kakek Ambar, adalah cinta lamanya yang pernah meninggalkan luka mendalam.
Keinginan Raka dan Ambar mendamaikan masa lalu justru membuka kembali kenangan lama. Alih-alih menyelesaikan masalah, pertemuan Abi dan Sita di Bandung membuat cinta yang telah lama terkubur kembali tumbuh. Konflik pun meluas hingga memengaruhi hubungan kedua cucu mereka.
Nuansa romantis film semakin kuat melalui delapan lagu original soundtrack, yaitu Lirik Puitis, Restu di Langit, Kembali (Pergi Lagi), Cinta yang Menang, Langkahku, Menjadi Kenangan, Terima Tanpa Marah, dan Hening Dulu.
Seluruh lagu digarap oleh komposer Arisdana Sutardhi bersama Amer Fikri dan dibawakan oleh sejumlah penyanyi seperti Marsha Aruan, Ian Saybani, Alfred Ayal, Mutiara Azka, hingga Hana Iswara.

Dengan jajaran pemain lintas generasi seperti Slamet Rahardjo, Widyawati, Sintya Marisca, Iskak Khivano, Sarah Sechan, Kiki Narendra, Iyang Dharmawan, Gisellma Firmansyah, Yusuf Mahardhika, Febry Khey, dan Annisa Kaila, CLBK (Cinta Lama Babak Kedua) menawarkan lebih dari sekadar kisah cinta.
Film ini menghadirkan nostalgia, konflik keluarga, komedi yang menghibur, serta pesan bahwa cinta yang pernah tumbuh tidak selalu benar-benar berakhir.
Bagi penonton yang ingin menikmati drama romantis dengan sentuhan komedi dan kehangatan keluarga, CLBK (Cinta Lama Babak Kedua) menjadi tontonan yang layak disaksikan di bioskop mulai 2 Juli 2026. (sulis)

+ There are no comments
Add yours