Beritareportase.com– Malam Munajat dan Silaturahmi Warga Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta Pusat yang digelar Forum Silaturahmi Jamaah Nahdlatul Ulama (FSJNU) Jakarta Pusat pada Rabu (29/7/2026) menjadi momentum penting untuk meneguhkan semangat persaudaraan dan rekonsiliasi di kalangan warga nahdliyin menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama.
Mengusung semangat religi, kebangsaan, dan persatuan, kegiatan yang diikuti sekitar 270 warga nahdliyin dari seluruh kecamatan di Jakarta Pusat ini menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan rumah besar yang menaungi seluruh warganya tanpa terkecuali. Di tengah dinamika organisasi yang berkembang, silaturahmi dan doa bersama menjadi ikhtiar untuk memperkuat ukhuwah dan menjaga soliditas organisasi.
Malam Munajat dihadiri sejumlah tokoh agama, pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan, di antaranya Ketua Umum Forum Ulama Santri Indonesia (FUSI) sekaligus Ketua PCNU Jakarta Pusat periode 2020–2025 Gus Syaifuddin, Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta Dr. KH. Yusuf Aman, Anggota DPRD DKI Jakarta Wa Ode Herlina, M.M., Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Administrasi Jakarta Pusat Drs. H. Sony Tri Wibawa mewakili Wali Kota Jakarta Pusat, Sekretaris Umum MUI Kota Jakarta Pusat KH. Fikri Muqoddas, Ketua DMI Jakarta Pusat KH. Syawaluddin, Ketua FKUB Jakarta Pusat KH. Rifqi Fuadi, Ketua Forum RT/RW Jakarta Pusat H. Joko, Pimpinan Yayasan Perguruan Islam Manhalun Nasyiin KH. Ahmad Samman, serta unsur Kecamatan, TNI, dan Polri.
Dalam sambutannya, Gus Syaifuddin menegaskan bahwa Munajat Kebangsaan bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat kebersamaan warga NU Jakarta Pusat dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi.
Ia mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menjadikan momentum tersebut sebagai sarana introspeksi dan memohon petunjuk Allah SWT agar Nahdlatul Ulama senantiasa berjalan sesuai dengan konstitusi organisasi dan nilai-nilai perjuangan para muassis.

“Momentum ini harus benar-benar kita manfaatkan untuk bermunajat atas kegundahan dan kegelisahan yang selama ini kita alami, khususnya terhadap kondisi NU Jakarta Pusat. Semoga Allah SWT memberikan jalan terbaik sesuai konstitusi dan aturan organisasi yang berlaku,” kata Gus Syaifuddin.
Menurut Gus Syaifuddin, kebersamaan merupakan modal utama dalam menjaga marwah Nahdlatul Ulama. Karena itu, seluruh elemen organisasi diharapkan mampu mengedepankan dialog, musyawarah, dan semangat persaudaraan dalam menyikapi setiap dinamika yang terjadi.
Diingatkan pula oleh Gus Syaifuddin bahwa Gedung NU Jakarta Pusat merupakan simbol perjuangan dan kebersamaan yang dibangun oleh para pengurus terdahulu sebagai pusat pengabdian kepada umat dan masyarakat. “Gedung ini dibangun oleh pengurus sebelumnya untuk kepentingan bersama. Mari kita manfaatkan sebagai pusat kegiatan dakwah, pendidikan, silaturahmi, dan pengabdian kepada masyarakat. Gedung ini milik seluruh warga NU Jakarta Pusat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Syaifuddin berharap Malam Munajat dapat menjadi titik temu yang menghadirkan rekonsiliasi dan memperkuat semangat persatuan seluruh warga nahdliyin menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama.
“Semoga malam ini menjadi malam rekonsiliasi bagi seluruh warga NU Jakarta Pusat. Mari kita songsong Muktamar Nahdlatul Ulama dengan hati yang bersih, menjaga persaudaraan, dan memohon kepada Allah SWT agar memberikan pemimpin terbaik yang mampu membawa kemajuan Nahdlatul Ulama serta terus berkhidmat untuk bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta, Dr. KH. Yusuf Aman, menekankan bahwa semangat Nahdlatul Ulama tidak pernah lepas dari semangat kebangsaan. Sejak berdiri, NU telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia melalui nilai-nilai cinta tanah air, persatuan, dan pengabdian kepada negara.
“Semangat ber-NU adalah semangat bernegara. Sejarah panjang Nahdlatul Ulama diawali dari lahirnya Nahdlatul Wathan dan berbagai ikhtiar para ulama dalam membangun kesadaran cinta tanah air,” ujar Dr. KH. Yusuf Aman.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus terus dijaga oleh seluruh warga nahdliyin, terutama dalam menghadapi momentum Muktamar NU. Ia berharap perbedaan yang ada dapat menjadi kekuatan untuk memperkaya gagasan dan memperkuat organisasi melalui musyawarah yang santun dan berlandaskan konstitusi.
Rangkaian acara diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dzikir, munajat, dan doa bersama yang dipanjatkan untuk keselamatan bangsa Indonesia, keutuhan Nahdlatul Ulama, serta kelancaran pelaksanaan Muktamar NU mendatang.
Munajat Kebangsaan yang digelar FSJNU Jakarta Pusat menjadi pengingat bahwa persatuan adalah kekuatan utama Nahdlatul Ulama. Di tengah berbagai dinamika yang ada, warga nahdliyin memilih untuk mengedepankan doa, silaturahmi, dan rekonsiliasi sebagai jalan bersama dalam menjaga khidmah NU kepada agama, umat, bangsa, dan negara.
Dengan semangat tersebut, NU Jakarta Pusat meneguhkan dirinya sebagai rumah besar yang mempersatukan seluruh warga nahdliyin untuk terus berkontribusi dalam merawat Indonesia yang damai, harmonis, dan berkeadaban. (cahyo)
















