SHOW Token Bawa Ketok Mejik Bidik Pasar Film Global

Beritareportase.com – Industri perfilman Indonesia mulai mendapat suntikan pendekatan baru dari perusahaan berbasis teknologi. SHOW Token resmi mengambil posisi sebagai Executive Producer dalam film drama komedi Ketok Mejik, sekaligus menandai proyek layar lebar keempat yang masuk dalam portofolio perusahaan tersebut. Bukan sekadar menempatkan dana produksi, SHOW Token membawa ambisi yang lebih besar. Film yang diproduksi bersama Haha Production itu diproyeksikan menjadi bagian dari strategi memperluas distribusi intellectual property (IP) Indonesia ke pasar internasional.

Film Ketok Mejik dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026. Sebelum penayangan nasional, special screening telah berlangsung di Surabaya dan Malang pada 1–2 Agustus.

Akshay Melwani selaku CEO SHOW Token menilai Ketok Mejik memiliki modal cerita yang kuat untuk dikembangkan ke pasar lebih luas. Unsur komedi, drama, serta persoalan kehidupan sehari-hari dianggap memiliki daya tarik lintas budaya. “Saya penggemar berat komedi. Ceritanya bagus, terhubung dengan masyarakat Indonesia, dan kita juga bisa membawa cerita ini ke ranah global,” ujarnya.

Bagi SHOW Token, keterlibatan sebagai Executive Producer bukan hanya tentang menyelesaikan satu proyek film. Perusahaan ingin menguji sejauh mana karya lokal dapat dikembangkan menjadi IP yang memiliki nilai komersial di pasar internasional.

Salah satu pasar yang kini dibidik adalah India. Akshay Melwani baru saja menghadiri BRICS Creative Economy Conference di India pada 6–7 Agustus 2026 sebagai salah satu perwakilan perusahaan Indonesia. Forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi industri hiburan dan ekonomi kreatif Indonesia kepada pelaku industri global.

SHOW Token Bawa Ketok Mejik Bidik Pasar Film Global

Dalam kesempatan itu, Ketok Mejik ikut diperkenalkan kepada sejumlah calon mitra. Akshay Melwani melihat India sebagai pasar yang menarik karena memiliki kedekatan budaya dengan Indonesia, khususnya dalam penerimaan terhadap genre komedi dan drama. “India kalau dilihat, drama dan komedi itu pasarnya sangat besar. Ini pas untuk Ketok Mejik yang bergenre komedi drama,” katanya.

Lebih jauh, Akshay Melwani menyebut terdapat ketertarikan awal dari pasar India terhadap film tersebut. “Saya baru dua hari di sana, ada ketertarikan. Itu pertanda baik,” ujarnya.

SHOW Token kini berencana membuka pembicaraan lebih lanjut mengenai kemungkinan distribusi Ketok Mejik di India, termasuk melihat kota dan jaringan pasar yang paling sesuai.

Langkah ini menjadi bagian dari target yang lebih besar: mengubah pola hubungan industri film Indonesia dengan pasar luar negeri. Selama ini, kata Akshay Melwani, penonton Indonesia cukup familiar dengan film India. Namun, jumlah film Indonesia yang masuk ke pasar India masih relatif terbatas.

“Kita sudah membawa Indian movies ke sini, tapi belum membawa Indian IP remake. Tujuan saya adalah membawa Indonesia ke pasar global, bukan global market ke sini,” tegas Akhsay Melwani.

Strategi SHOW Token tidak berhenti pada distribusi film dalam bentuk tayangan bioskop. Perusahaan juga melihat peluang untuk membawa IP Indonesia melalui berbagai model, mulai dari distribusi film dengan dubbing hingga peluang remake di negara lain.

Model tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap film. Sebuah karya tidak lagi hanya diposisikan sebagai tontonan, tetapi sebagai aset intelektual yang dapat dikembangkan di berbagai pasar.

Untuk Ketok Mejik, kedekatan budaya menjadi salah satu pertimbangan utama. Akshay menyebut negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, China, dan Rusia sebagai bagian dari cakupan pasar yang telah menjadi perhatian SHOW Token melalui jaringan mitranya.

India menjadi tantangan sekaligus peluang baru karena jumlah film Indonesia yang beredar di sana belum banyak. Ekspansi tersebut berjalan beriringan dengan komitmen SHOW Token mengalokasikan US$100 juta untuk investasi ekosistem kreatif di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Namun, perusahaan memastikan dana tersebut tidak dibagikan dengan nilai yang sama untuk setiap film.

“Setiap production house memiliki budget yang berbeda dan SHOW Token memiliki persentase berbeda yang kita masukkan. Tergantung mana yang kita suka,” jelas Akshay Melwani.

Karena itu, nilai investasi khusus untuk Ketok Mejik tidak diungkapkan. Yang ditekankan SHOW Token adalah bagaimana dana tersebut dapat menjadi bagian dari pembangunan ekosistem film yang lebih efisien dan memiliki peluang ekonomi berkelanjutan.

Keunikan lain dari keterlibatan SHOW Token terletak pada audiens yang dibawanya. Sebagai ekosistem yang memiliki keterhubungan dengan komunitas Web3 dan kripto, SHOW Token berusaha memperluas basis penonton film melalui komunitas yang selama ini tidak selalu menjadi target utama pemasaran film konvensional.

Akshay Melwani menyebut Gen Z dan komunitas kripto sebagai bagian dari audiens yang ingin dibawa SHOW Token ke bioskop. “Kita membawa audiens yang berbeda, market yang berbeda: Gen Z community, crypto community. Kita tidak hanya membawa Gen Z dan crypto community, tapi juga broader market,” katanya.

Strategi tersebut sudah terlihat dalam kegiatan roadshow Ketok Mejik di Surabaya dan Malang. Menurut Akshay Melwani, roadshow bukan hanya menjadi agenda promosi film, tetapi juga sarana mempertemukan komunitas film dengan komunitas baru. “Kita ingin membawa lebih banyak orang, terutama pasar Gen Z, kembali ke bioskop,” ujarnya.

Langkah SHOW Token juga tidak bisa dilepaskan dari identitas perusahaan sebagai platform hiburan berbasis Web3, blockchain, dan artificial intelligence (AI). Melalui ekosistem tersebut, SHOW Token ingin membangun model baru dalam pendanaan, produksi, kolaborasi kreator, hingga pengelolaan IP.

Teknologi AI menjadi bagian dari visi pengembangan produksi dan perangkat kolaborasi kreator, sementara blockchain menjadi fondasi bagi transparansi digital dalam ekosistem. Pendekatan ini diarahkan untuk menciptakan hubungan yang lebih terbuka antara karya, kreator, investor, komunitas, dan penonton.

SHOW Token Bawa Ketok Mejik Bidik Pasar Film Global

Dalam model yang ditawarkan SHOW Token, masyarakat tidak lagi hanya berada di posisi sebagai penonton setelah film selesai diproduksi. Mereka diarahkan untuk menjadi bagian dari ekosistem yang mengikuti perjalanan sebuah IP.

“Ini adalah pergeseran paradigma penting di mana audiens bertransformasi menjadi mitra pendukung utama ekosistem kreatif,” kata Akshay Melwani.

Disutradarai Yogi S. Calam, Ketok Mejik menggabungkan komedi dengan drama kehidupan. Film ini bercerita tentang Ben, diperankan Ananta Rispo, yang mewarisi bengkel milik kakeknya sekaligus menghadapi persoalan utang.

Ben kemudian berhadapan dengan berbagai karakter, termasuk Made yang diperankan Tarra Budiman, Saged yang dimainkan Dodit Mulyanto, dan Unung yang diperankan Arief Didu.

Bengkel dalam film tersebut tidak hanya menjadi latar cerita. Tempat itu menjadi metafora tentang manusia yang juga membutuhkan proses “perbaikan” mulai dari konflik keluarga, hubungan antarmanusia hingga persoalan hidup.

Formula tersebut dinilai SHOW Token memiliki peluang untuk diterima oleh penonton yang lebih luas karena persoalan emosional dan keluarga bersifat universal. Pada akhirnya, Ketok Mejik menjadi lebih dari sekadar proyek layar lebar keempat bagi SHOW Token.

Film ini menjadi salah satu ujian awal terhadap ambisi perusahaan untuk mengawinkan pendanaan digital, AI, blockchain, komunitas Web3, pemasaran berbasis Gen Z, dan distribusi global dalam satu ekosistem hiburan.

Jika berhasil menembus pasar luar negeri, Ketok Mejik bukan hanya menjadi film Indonesia yang mendapatkan penonton baru. Film ini juga berpotensi menjadi contoh bagaimana IP lokal dapat dikembangkan menjadi aset hiburan yang bergerak melintasi batas negara. (cahyo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *